Ada Sekolah di Rimba

Judul:Sokola Rimba
Pengarang:Butet Manurung
Cetakan:Pertama, Juni 2007
Ketebalan250 halaman
Penerbit:INSIST Press
Peresensi: Rahmadanil

cover-sekola-rimba.jpg

SOKOLA RIMBA

Orang rimba yang mendiami Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi, sangat kovensional. Penampilan mereka boleh dibilang sedikit “erotis.” Sebab kaum pria orang rimba tidak berbaju, mereka hanya mengenakan cawat—sejenis celana. Terlepas dari semua itu, pria yang sudah berkeluarga harus tunduk pada istri.

Hal yang menarik dari orang rimba ialah loyalitas mereka pada adat. Bagi mereka adat juga berfungsi sebagai tameng dari kebrutalan dunia luar. Salah satu contoh, wanita yang belum menikah berjalan dengan laki-laki sangat dilarang. Tidak hanya itu saja, adat orang rimba juga melarang berteman dengan orang terang yang memasuki hutan, ditenggarai orang terang membawa penyakit. Tradisi lainnya, bila salah seorang anggota keluarga mereka meninggal dunia, mereka akan bepergian jauh, mengarungi hutan untuk mengusir kesedihan.

Semakin banyak anggota keluarga maupun kelompok mereka semakin jauh pula mereka mengarungi hutan. Maka jangan heran bila mereka memiliki kebiasaan nomaden. Uniknya lagi dalam kesehariannya anak-anak boleh membentak orangtua, jika dipaksa berkerja. Adat rimba menegaskan, bagi yang melanggar peraturan diwajibkan membayar denda. Denda yang mereka bayarkan bukanlah berupa uang, melainkan kain yang merupakan alat tukar (uang) orang rimba.

Perekonomian orang rimba bergantung pada hasil hutan yang sekarang sudah mulai berkurang. Mata pencaharian orang rimba mengandalkan getah karet, madu. Tradisi unik ketika orang rimba mengambil madu yang terdapat di pohon besar dengan ketinggian mencapai dua puluh meter lebih yaitu mereka membacakan mantra pengusir roh halus yang menjaga pohon tersebut sebelum memanjat. Bagi orang rimba, hutan merupakan rumah. Rumah yang memberikan mereka segalanya Sekarang, jarang sekali media yang mewartakan pertambahan areal hutan, justru sebaliknya.

Orang rimba sangat sulit menerima edukasi. Bukan mereka bodoh atau ber-IQ jongkok. Melainkan dalam kepercayaan mereka, pendidikan dilarang karena akan mengundang cemeti dari sang dewa. Kita tidak bisa menyalahkan begitu saja kepercayaan orang rimba. Itulah yang menyebabkan sebagian orang rimba masih buta aksara.

Kondisi seperti inilah yang mengundang Saur Marlina Manurung atau yang lebih akrab dikenal Butet Manurung. Sarjana Antropologi dan Bahasa dan Satra Indonesia UNPAD sekaligus penulis buku ini kepincut mengarungi hutan Jambi. Butet yang dulunya bergabung dengan WARSI mencoba untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat rimba. Perjuangan yang dihadapi Butet amatlah berat. Kondisi hutan yang rapat sepi, bahaya mengintai setiap saat baik itu dari binatang buas, orang rimba sendiri maupun pelaku illegal logging yang selalu mencurigai gerak gerik Butet, membuatnya harus berinteraksi dengan orang rimba. Peraih Heroes of Asia Award, 2004 ini mencintai status sebagai seorang guru anak-anak orang rimba. Sebelumnya Butet mengalami bermacam perlakuan yang benar-benar menguji dirinya dari orang rimba

Sokola Rimba merupakan model sekolah yang dirintis oleh penulis dan kawan-kawan dengan tujuan membantu orang rimba dari ketertindasan. Dari catatan harian penulis dapat diketahui, sangat sulit kiranya meyakinkan orang rimba bahwa pendidikan. Ternyata orang rimba tak sebodoh dikira. Mereka memiliki daya tangkap dan ingat yang tidak jauh beda dibandingkan dengan anak orang terang. Anak-anak orang rimba yang belajar aksara terkadang mereka belajar di bawah tekanan adat. Akat tetapi, semangat yang tinggi (hal. 85) membuat mereka semakin haus akan pendidikan. Sehingga mereka ingin terus belajar meskipun di bawah tekanan, namun itu bisa mereka tepis. Arti penting edukasi juga ditularkan pada sesama. Hingga saat ini Sokola Rimba telah melahirkan kader-kader guru yang berasal dari anak rimba untuk anak rimba sendirinya. Para kader ini sudah mampu membaca dan menulis, tidak sekadar itu saja mereka juga mengerti hukum.

Buku ini diangkat dari catatan harian Butet Manurung selama menjadi guru di rimba. Sokola Rimba dibagi kedalam dua bagian dimana bab I pada bagian pertama buku ini sangat menarik untuk dibaca. Dimana penulis menceritakan perjalanan awalnya memasuki kawasan hutan yang dihuni oleh orang rimba yang belum tentu friendly padanya. Penulis sangat ekspresif menceritakan bagaimana ia meyakinkan orang rimba bahwa pendidikan sangat penting.[]

Satu Tanggapan

  1. Info Buku INSISTPress_ Juli 2008

    1. Video for Change, Panduan Video Untuk Advokasi/ Sam Gregory, Gillian Caldwell/ I,Jan 2008,17X24cm,xx+381hal/ Rp.45.000,-
    2. Meniti Jalan Lain, Pengalaman Malaysia Menghadapi Krisis Ekonomi/ Martin Khor/ I,Maret 2008,13x19cm, x+68 hal/ Rp. 12.500,-
    3. Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Kumpulan Catatan Perjalanan. Jilid 2/ Sigit Susanto/ I, Maret 2008,15x21cm,xvi+477 hal/ Rp.45.000,-
    4. Simulacra Bali, Ambiguitas Tradisionalisasi Orang Bali/ Ambarwati Kurnianingsih/ I,Juni 2008,xii+128 hlm, 15x21cm/ Rp.22.500,-
    5. Ironi Negeri Beras/ Khudori/ I,Juni 2008,15x21cm, xvii+366 hlm/ Rp.42.500,-
    6. Bahaya Laten Malam Pengantin/ Aslan Abidin/ I,Juni 2008, 13x19cm, xv+114 hlm/ Rp.22.500,-
    7. Roman Pergaoelan/ Sudarmoko/ I,Juli 2008, 15x21cm,xvii+189hlm/ Rp.32.000,-

    _________________

    PEMESANAN/PEMBELIAN Distribusi INSISTPress
    Jl. Ganesha II/9, Timoho, Yogyakarta 55165
    Telp : +62 274 7498132, 556433
    Fax : +62 274 556433
    E-mail : /anwar@insist.or.id/
    /markabananwar@yahoo.co.id/
    /a_mansyurudin@yahoo.co.id/
    Web : /http://www.insist.or.id/,
    http:/bukuinsistpress.blogspot.com/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: