Kisah Cinta dalam Ketauladanan

Judul : DI ATAS SAJADAH CINTA.

Halaman : 266 halaman/ 20,5cm x 13,5 cm P

enulis : Habiburrahman El Shirazy

Cetakan : ke-VI (Edisi Revisi untuk Sinetron Cinta Islami)

Penerbit : Republika

SEGUDANG  prestasi sudah dikantongi Habiburrahman El Shirazy lewat karya agungnya. Seperti Ayat-Ayat Cinta yang telah membawa Habiburrahman El Shirazy sebagai penulis Best Seller. Dan beberapa penghargaan serta karya lainnya yang membesarkan nama Habiburrahman El Shirazy.

Penulis yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi Al-Azhar, Cairo, karyanya semakin banyak diminati dan sudah mendapat tempat direlung hati remaja muslim sebagian besar. Bagi pembaca yang sudah mabuk dengan novel-novel islami, mungkin nama Habiburrahman El Shirazy sudah tak asing lagi. Satu lagi karya Habiburrahman El Shirazy yaitu DI ATAS SAJADAH CINTA edisi revisi untuk sinetron cinta islami yang settingnya Mesir-Indonesia.

Cinta secara harfiah adalah rasa rindu, sangat suka, selalu teringat dan terpikirkan dalam hati. Artinya sesuatu yang kita cintai itu pasti akan selalu teringat padanya. Sudah mengisi relung hati kita. Perasaan selalu ingin bertemu walaupun sedetik saja. Dan bila tak ketemu sehari saja, serasa setahun, begitu rasa cintai merecuni kita. Tapi, terkadang cinta sulit untuk diterjemahkan namun mudah untuk diungkapkan. Dan bagaimana anda merefleksikan rasa cinta tersebut?

Sudah familiar sekali kisah percintaan Romeo dan Juliet. Sungguh kekuatan cinta yang timbul tak dapat memisahkan mereka berdua. Tapi bagaimana ketika cinta bersemi sangat berseberangan dengan agama. Apa tindak tanduk anda jika cinta yang begitu besar dan tak dapat dibendung lagi? Dan cinta yang selama ini telah anda bina hingga bertahun-tahun harus berakhir? Atau pun anda dijodohkan dengan orang yang amat anda benci karena sesuatu hal? Mungkin ini tidak adil bagi anda maupun saya sendiri.

Tapi cerita sebanyak 38 judul yang dimuat dalam buku DI ATAS SAJADAH CINTA ini akan membuat anda takjub. Buku DI ATAS SAJADAH CINTA merupakan salah satu judul dalam cerita dalam buku ini. Cerita yang berjudul DI ATAS SAJADAH CINTA ini akan membawa anda mengarungi samudera kisah percintaan sepasang pemuda-pemudi islam. Keteguhan hati untuk mempertahankan iman dan aqidah yang harus rela mengorbankan cinta yang berbuah pada kebahagian. Jikalau Allah sudah menetapkan jodoh seseorang, pasti tidak akan hilang kemana. Cinta tak harus memiliki. Kisah cinta lainnya yang dimuat dalam buku ini akan membuai pembaca. Kisah cinta yang akan memberikan arti cinta yang sebenarnya kepada remaja. Bukan cinta akan duniawi saja melainkan cinta pada akhirat serta mengingatkan kita pada sang Khalik.

Kisah cinta yang dipadankan dengan kisah-kisah tauladan, memberikan pelajaran baru dan udara segar bagi pembaca dalam memahami arti kehidupan ini. Kisah-kisah tauladan ini juga mengungkapkan realitas kehidupan orang muslim terhadap sesama. Serta kekerasan hidup yang penuh perjuangan di kota metropolitan, yang menggugah hati nurani kita untuk menerapkan kasih sayang sesama. Tak hanya itu saja, kisah pada zaman Rasulullah SAW turut menghiasi buku ini. Kisah di zaman Rasulullah SAW seakan mengingatkan kita pada beliau. Dan sedikit memberi tauladan dan pengetahuan kita tentang perjuangan islam di dalam peperangan, yang dalam kisah ini seorang perempuan perkasa yang ikut andil dalam berperang demi agamanya. Sungguh sarat akan agama buku ini. Dari 38 judul cerita ini, beberapa cerita juga diambilkan dari karya Habiburrahman El Shirazy lainnya. 38 kisah tersebut penuh dengan makna, meskipun didominasi oleh latar Arab tidak mengurangi kelezatan buku ini.

Bahasa Arab yang digunakan tidak akan membuat bosan. Melainkan menambah wawasan serta membawa kita larut dan seperti melihat adanya kisa tersebut didepan mata sendiri. Bahasa Arab yang digunakan merupakan percakapan sehari-hari serta hadits nabi yang tentunya memberikan nilai spiritual. Walalupun setting Arab yang mendominasi, tapi cerita yang berlatar belakang dari tanah air sendiri tak luput dari buku ini. Meskipun kisah yang disajikan ini terasa klasik, namun penuh dengan makna yang mungkin belum anda temui dan mendorong untuk kembali pada jalan-Nya. Selamat membaca. [] Rahmadanil, pencinta buku

2 Tanggapan

  1. DI ATAS SAJADAH CINTA
    Penulis: Habiburrahman El Shirazy

    KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara
    membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun
    geliat hidup kota Kufah masih terasa.
    Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat.
    Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan
    ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan
    Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli
    Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat
    sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah
    pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk
    ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid
    adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat
    perhatian.
    Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada
    ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras.
    Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada
    ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur
    sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium
    aroma wangi para bidadari yang suci.
    Tatkala sampai pada surat Asy Syams , ia menangis,
    “fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
    qad aflaha man zakkaaha.
    wa qad khaaba man dassaaha
    …”
    (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,
    sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
    dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya
    …)
    Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan
    jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang
    beruntung, ataukah yang merugi?
    Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang.
    Akhirnya ia pingsan.
    ***
    Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana.
    Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang
    gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma
    yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.
    Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari
    riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang
    terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya
    sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair
    cinta,
    “in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si
    musyriqun bi dhau’
    wal hubb al wariq
    …”
    (jika aku pencinta malam maka
    gelasku memancarkan cahaya
    dan cinta yang mekar
    …)
    ***
    Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di
    ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang
    didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah
    menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia
    dendangkan.”
    “Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi
    siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk
    putranya, Yasir.”
    “Bagaimana, kau terima atau…?”
    “Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘ kan masih kerabat sendiri dan kita
    banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu
    kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”
    “Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”
    “Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir.
    Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”
    “Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”
    “Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan
    tobat! Yang penting dia kaya raya.”
    ***
    Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah.
    Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya
    seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan
    seruling.
    “Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik
    temannya.
    “Be…benarkah?”
    “Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan
    kesempatan ini, Yasir!”
    “Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”
    Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang
    penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu
    menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut
    dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu
    ketelinga Yasir,
    “Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”
    Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan
    menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking .
    Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.
    ***
    Keesokan harinya.
    Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota . Ia
    hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus
    berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar
    untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.
    Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita
    bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki
    jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat
    titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan
    mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu
    menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya
    menangkap suara,
    “Toloong! Toloong!!”
    Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia
    menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.
    “Toloong! Toloong!!”
    Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya
    dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan.
    Kuda itu berlari kencang.
    “Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”
    Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu
    semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia
    menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan.
    Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan
    berkata keras,
    “Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”
    Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan
    berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh.
    Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,
    “Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”
    Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang
    bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,
    “Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali.
    Mungkin terkilir saat jatuh.”
    “Syukurlah kalau begitu.”
    Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid.
    Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu
    perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan
    tampaklah wajah cantik nan memesona,
    “Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari
    mana dan mau ke mana Tuan?”
    Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih
    memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua.
    Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang
    sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona
    oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya.
    Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat
    menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.
    “Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”
    “Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di
    dalam masjid?”
    “Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan
    badan. Ia lalu melangkah.
    “Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan
    kita belum selesai!”
    “Aku mau melanjutkan perjalananku!”
    Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid
    gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di
    depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
    “Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan
    rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke
    rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan
    terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”
    Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.
    “Tidak usah.”
    “Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi
    jalan!”
    Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil
    menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya
    melanjutkan perjalanan.
    ***
    Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi
    sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.
    Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya
    bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma
    hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk
    matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian
    terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah
    kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap
    wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya.
    Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan
    kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,
    “Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga
    terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada
    hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona
    pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi,
    izinkanlah aku mencintainya.”
    Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang
    ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,
    “Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan
    datang kemari.”
    Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu
    hadir di pelupuk matanya.
    ***
    Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di
    sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam
    shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di
    kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura
    kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung
    hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa
    saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura
    pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’ -nya namun usaha itu
    sia-sia.
    “Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang
    menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu,
    hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau
    ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan
    suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun
    cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah
    langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup
    matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati,
    cinta, dan segala keindahan semesta.
    Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia
    paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun
    cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan
    azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin
    kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung
    hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.
    Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud.
    Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya.
    Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.
    “Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia.
    Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”
    Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,
    “Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari
    murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba
    pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi,
    hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”
    ***
    Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota . Tujuannya
    jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia
    disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan
    kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota .
    Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik
    tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid
    mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
    Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti
    dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid
    menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu
    terdengarlah jawaban ayah Afirah,
    “Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu
    Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah
    menerimanya.”
    Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa
    yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia
    mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis
    keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti
    lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.
    ***
    Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan
    Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia
    dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu
    badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis
    seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari
    bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.
    Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah.
    Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak
    kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,
    Kepada Zahid,
    Assalamu’alaikum
    Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang
    membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku
    dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang
    sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku
    selama-lamanya.
    Zahid,
    Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita
    berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta.
    Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.
    Wassalam
    Afirah
    ============ ========= ========= ========= ========= ========= ======
    Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia
    berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada
    orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.
    Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati
    berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya
    seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar
    sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :
    Kepada Afirah,
    Salamullahi’alaiki,
    Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah
    semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan
    sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa
    Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah
    cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.
    Afirah,
    Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa
    ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka.
    Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” (
    Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada
    Rabb-ku. Az Zumar : 13 )
    Afirah,
    Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang
    bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih
    cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :
    “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan
    laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula),
    dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki
    yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh)
    itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan
    rizki yang mulia (yaitu surga).”
    Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku
    akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.
    Afirah,
    Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan
    rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.
    Wassalam,
    Zahid
    ============ ========= ========= ========= ========= ========= ======
    Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena
    kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu
    hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama
    Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.
    Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari
    dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih
    pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis
    di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam
    ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia
    menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah
    SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya
    benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.
    Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk
    surat dari Afirah :
    Kepada Zahid,
    Assalamu’alaikum,
    Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya
    yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir.
    Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita
    laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.
    Wassalam,
    Afirah
    ============ ========= ========= ========= ========= ========= ======
    Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta
    bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.
    Diambil dari buku dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy.
    Dapatkan bukunya dan simak 37 cerita keren lainnya.
    Penerbit:
    1. Penerbit Republika
    2. Pesantren Basmala Indonesia
    3. MD Entertainment
    Cetakan VII, Juni 2006

    *
    [FEForum] Di Atas Sajadah Cinta De’ Atie

  2. kk ku mau nyari softcopynya dmn ya????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: