Love and Survive to Live

Judul buku : Ketika Cinta Bertasbih (Episode 1)
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Hal : 477 halaman
Cetakan : Ketiga, Maret 2007
Penerbit : Republika-Basmala
Resensator : Rahmadanil*

Live is struggle. Hidup merupakan sebuah perjuangan. Perjuangan untuk survive dari pergulatan kejamnya kehidupan. Kehidupan yang dinamis dan tidak dapat diprediksikan. Terkadang harus berhadapan dengan realita yang tidak pernah diharapkan. Salah satunya ketidakselarasan antara harapan dengan kenyataan.

Banyak rintangan kehidupan. Salah satunya, keterbatasan yang menghalangi seseorang meniti kesuksesan. Tak semua orang betah terkungkung dalam keterbatasan. Ada kalanya keterbatasan dijadikan sebagai batu loncatan keluar dari keterpurukan. Segala daya dan upaya dikerahkan. Meskipun harus berbagi waktu bahkan mengorbankan kebutuhan pendidikan untuk ditunda sementara waktu. Orang yang seperti ini memiliki prinsip yang kokoh: keterbatasan yang bermartabat.

Itulah sekilas pesan yang tersirat dari novel dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (KCB) episode 1. Dalam novel ini Habiburrahman El Shirazy kembali dengan setting adalannya negeri para Nabi, Mesir. Penulis best seller Ayat-Ayat Cinta ini kembali mengeksplorasi kisah anak Indonesia yang kuliah di Al-Azhar University seperti yang dikisahkan dalam Ayat-Ayat Cinta.

Hampir sembilan tahun, Azzam menjadi mahasiswa fakultas Ushuluddin di Al-Azhar University. Akan tetapi dia belum juga diwisuda sebagai sarjana. Bukan kemampuan akademiknya yang jeblok, melainkan ia berwirausaha demi keluarganya di tanah air. Tak ambil pusing dengan apa kata orang. Disibukkan dirinya dengan berbisnis tempe dan bakso. Hanya sesekali Mas Insinyur (panggilan akrab Azzam) menghadiri ceramah kuliahnya. Itupun jika ada waktu. Usaha tempe dan bakso yang dirintisnya membawa kemujuran. Selain itu, kepiawainnya memasak, Mas Insinyur menjadi partner KBRI dalam hajatan spesifik makanan khas Indonesia. Kedekatan yang mengantarkan Azzam akrab dengan putri Dubes Indonesia untuk Mesir itu. Eliana namanya. Gadis yang terkenal di seantero Mesir hingga kalangan mahasiswa. Cerdas, cantik, berwawasan yang luas dan sudah menyelesaikan S-2. Punya keberanian mengkritik Liga Arab. Di mata Azzam, Eliana hanyalah gadis biasa-biasa saja. Suatu waktu, Azzam mengritik Eliana dengan nada berseloroh. Sejurus dengan hal itu, sedikit tersulut ketertarikan Azzam pada Eliana. Rasa itu cepat ia kubur. Komitmennya ialah fokus bekerja dan kembali kebangku perkuliahan yang sempat tertunda.

Peraih penghargaan Islamic Book Fair (IBF) 2006, melengkapi keseharian Azzam dengan tokoh sampingan. Nasir, Fadhil, Ali, dan Hafez mahasiswa Indonesia yang tinggal satu flat dengan Azzam. Dan Azzam-lah menjadi kepala keluarganya. Walaupun Azzam belum juga diwisuda, mereka sangat menghormati Azzam sebagai kepala keluarga sekaligus orang yang lebih dewasa dari mereka baik dari segi umur maupun paradigma. Berangkat dari tema yang diusung penulis, konflik KCB ditata secara apik. Diberi sentuhan kejutan yang menuntut kejelian pembaca. Tokoh sampingan yang dihadirkan penulis memang menghiasi tokoh utama. Akan tetapi kehadirannya ini sepertinya mendominasi tokoh utama. Ending dari KCB episode 1, belum mencapai klimaks tokoh utama. Ini bukan berarti, KCB pincang konflik. Tampaknya penulis hendak memberikan kejutan yang pembaca tunggu-tunggu. Tentunya di Ketika Cinta Bertasbih episode 2 nantinya.

Novel Ketika Cinta Bertasbih lebih mengeksplorasi kisah cinta tokoh sampingan. Seperti kisah cinta Fadhil yang mengendap sekian lama pada Tiara, begitu juga sebaliknya. Kisah cinta mereka harus direlakan pupus karena mereka tidak ingin bertentangan dengan syara’ (hal: 427). Karena prioritas cinta mereka adalah cinta yang berlandasakan pada akidah dan amalan. Begitu juga dengan kisah cinta Hafez yang dimabuk kepayang akan kencatikan adiknya Fadhil, Cut Mala. Ini bukan berarti Habiburrahman mengenyampingkan problem krusial Azzam, tokoh utama. Melainkan penulis mengeksplorasi kisah cinta Azzam secara perlahan. Azzam juga pernah merasakan cintanya pada Eliana, namun cepat ia tepis. Tak cepat menyerah, Azzam pun juga meminang Anna Althafunnisa, putri seorang Kiai yang telah menyelesaikan S-2 nya (hlm: 111). Lagi-lagi Azzam harus mengubur niatnya tersebut, pinangan Azzam ditolak oleh wali Anna. Lagi-lagi dilema kesarjanaan. Dan Anna pun telah lebih dahulu dipinang oleh Furqan, yang hampir menyelesaikan S-2. Azzam kembali meluruskan niatnya. Ia harus segara menyelesaikan studinya di Mesir dan segera kembali ke Indonesia. Pucuk dicinta ulam pun tiba, kerinduan pulang ke Indonesia terkabul jua. Hanya sampai di situ Habiburrahman menutup KCB episode 1. Novel dwilogi ini juga sedikit beresensi politis. Nuansa politis yang tidak terlalu kentara ini disisipkan pada kejadian yang menimpa Furqan (hlm: 371).

Membaca novel ini, fantasi pembaca didekatkan pada kehidupan anak kuliah. Narasi-narasi yang dibuat penulis memberikan kesejukan. Lewat kata-katanya yang sastrawi. Ketika Cinta Bertasbih juga sarat akan nilai agama yang kental, ajaran yang mengajak kita sejenak browsing pada problematika kehidupan yang kian lama kian pelik. Aspek edukasi yang tersirat, mengajak pembaca untuk memenej cinta. Cinta pada orang yang dicintai maupun cinta pada Tuhan dan pengorbanan cinta yang harus direlakan demi ibadah. (Rahmadanil, pencinta buku)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: