SPMB Gerbang Masuk PTN, Masuk PTS Pilihan Kesekian

Perjuangan belum selesai. Begitulah nasib pelajar SMA dan SMK yang telah lulus dari ujian akhir yang menjadi momok menakutkan. Bagi lulusan SMA dan SMK yang akan melanjutkan studinya ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) harus “belajar” kembali. Pasalnya untuk menjadi mahasiswa di PTN yang terhimpun dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) harus mengikuti ujian lagi. SPMB yang akan digelar pada 4-5 Juli mendatang, merupakan tantangan yang tak asing lagi dan menguras habis kemampuan pesertanya.

Seperti yang dilansir Republika dua minggu yang lalu, peminat SPMB dari tahun ketahun cendrung menurun. Hal ini disebabkan mulai menurunnya animo pelajar untuk kuliah. Karena masih dibayang-bayangi tidak jaminan seseorang mudah mendapatkan pekerjaan meskipun bertitel sarjana.

Sejurus dengan itu, tentunya kita tidak boleh puas hanya dengan mengenyam pendidikan hingga SMA atau SMK saja. Ilmu pengetahuan kian berkembangan. Jangan sampai nantinya ketinggalan dan menjadi terbelakang alias bebal. Menanggapi hal ini Dia Afnani, siswi MAN 2 Padang ini lebih memilih untuk kuliah. “Aku mau ngelanjutin studi ke perguruan tinggi. Supaya ilmu bertambah mantap.” Alasan yang sama juga meluncur dari Ishadi Febriayanda siswa SMAN 2 Pariaman. Mantan ketua OSIS ini merasa ilmu yang ditimba selama di SMA rasanya belum cukup. Tak jauh beda dengan siswi SMAN 1 Pariaman, Rida Fadila, “Kuliah, dong. Karena aku ingin nambah ilmu lagi. Kan, gak cukup di SMA aja.” Akan tetapi Dwi Putri Wahyuningsih siswi MAN 1 yang akrab dipanggil Putri ini mengaku kuliah tidak sekadar nambah ilmu saja melainkan untuk memudahkan mendapat pekerjaan, “Aku kuliah, agar lebih mempermudah mendapat pekerjaan.”

Salah satu gerbang untuk kuliah di PTN tentunya harus mengikut ujian SPMB. Tidak saja lewat jalur ini. Jalur khusus merupakan alternatif untuk kuliah PTN. Tapi apakah semua lulusan SMA dan SMK yang akan mengikuti SPMB? “Nggak, aku sudah diterima di PTS, takut kalau ikut SPMB, malah gak lulus,” beber Jennifer Chandra Dewi, SMA Don Bosco. Pikiran yang sama dengan alasan yang berbeda, diutarakan Ridola Sari. Cewek kelahiran 24 Februari 1987 ini mengaku tidak berminat sama sekali ikut SPMB.

Ikut Bimbel (Bimbingan Belajar) Tak Jaminan?
Bagi mereka yang akan ikut SPMB, bimbel berperan penting dalam menunjang keberhasilan di SPMB nanti. Bimbel-bimbel yang ada sekarang bersaing menarik peminat yang lebih banyak dengan memberikan berbagai fasilitas. Tinggal pilih: Ada yang mengikuti bimbel lokal saja. Ada yang memilih di luar daerah tempat tinggalnya.

Dalam memilih bimbel, Sherly Aktivani, SMAN 10 Padang, mengaku, “Bimbel yang saya pilih ialah bimbel yang menyediakan fasilitas seperti konsultasi pemilihan jurusan, try out, serta saran dan prasarana yang menunjang,” paparnya. Beda dengan Rida fadila, yang memilih ikut bimbel di luar Pariaman. Alsannya, ia belum yakin dengan bimbel yang ada diTidak semua yang suka ikut bimbel. Yurike Angela Rahman, siswi SMA Don Bosco yang lebih memilih les dirumah untuk mata pelajaran tertentu dengan alasan, “Bimbel di sini kurang efektif, bukan berarti kurang berkualitas.”

Selain itu, ada yang tidak ikut bimbel karena faktor ekonomi. Dwi Putri Ningsih, MAN 1 Padang adalah contohnya. Walaupun tidak berminat ikut SPMB, Ridola Sari pelajar SMA PGRI 2 beropini, “Belajar yang tekun di rumah itu sudah lebih cukup dari belajar tambahan. ”Mantan ketua OSIS SMAN 2 Pariaman, Ishadi Febriyanda turut menambahkan, “Ikut bimbel belum tentu jaminan lulus SPMB. Ditambah lagi biaya bimbel yang terbilang mahal. Belajar di rumah dengan serius, saya rasa gak masalah. ” Tampaknya masih ada ketergantungan sebagian siswa pada bimbel. Itu semua tergantung pada pilihan pribadi masing-masing.

Kelulusan seseorang di SPMB nantinya bukan karena untung-untungan, dia anak bimbel maupun anak yang juara umum. Jangan salah kaprah. Pintar saja tidak jaminan akan lulus SPMB tanpa memiliki strategi. Strateginya bukan buat jimat, dapat wangsit atau ada kunci jawaban di wc. Ngomong-ngomong soal strategi, ternyata Sherly Aktivani dengan senang hati berbagi strategi, “Strateginya yaitu persiapan fisik yang prima, psikis, kognitif, dan sering-sering mengikuti TO (Tray Out) agar tahu berapa passing graduenya.” Secara umum strategi seperti itu memang penting. Meskipun kemampuan kognitif tidak patokan utama seseorang itu lulus SPMB, tapi itu modal dasar dalam menjawab soal-soal SPMB nantinya. Dan yang tak kalah pentingnya, menjaga kesehatan jelang SPMB serta kejelian kerja itu wajib. Ketelitian dan kejelian kerja sangat dibutuhkan terutama dalam pengisian formulir pendaftaran. Segeralah atasi masalah-masalah kecil yang berakibat fatal seperti tangan suka keringatan bila sudah membulat-bulatkan form maupun jawaban .

Sejauh mana Persiapanmu?
Layak orang yang akan berperang.
Tentunya persiapan harus sematang mungkin. Latihan yang sering merupakan bagian dari strategi. Persiapan sedini mungkin itu lebih baik dari pada memakai metode sistem kebut semalam yang sudah basi. Sherli Aktiva, Rida Fadila, Ishadi Febriyanda, dan Putri mengaku persiapan “tempur” mereka baru 70 persen. Sementara itu Dia Afnani baru 60 persen. Tentunya makin hari persiapan semakin meningkat seiring dengan melatih diri dengan membahas soal secara terus menerus.

Sudah mantap
Bila menitik beratkan pada minat dan bakat, rasanya banyak pilihan yang akan membingungkan lulusan SMA dan SMK yang akan kuliah. Karena ada anggapan saya cocok di sini, srek aja dengan bidang itu, lebih enak lagi jurusan ini. Tapi hanya ada satu pilihan yang harus diambil dalam pilihan. Tentunya pilihan tersebut sudah sepadan dengan kemampuan kamu. Seperti: Rida Fadila dengan jurusan Te
knik Sipil, Ishadi Febriyanda sudah mantap memilih jurusan pendidikan bahasa Inggris, dan Sherly Aktiva yang ingin masuk kedokteran atau pendidikan matematika mengaku sudah jurusan yang dipilih sudah sesuai dengan kemampuan.

Namun, masih ada yang bingung dan ragu-ragu, anehnya mereka sudah punya pilihan. “Sedikit bingung juga sih,” tutur Dwi Putri Wahyuningsih yang ingin konsentrasi pada jurusan Akuntansi. Begitu juga dengan Dia Afnani yang masih ragu, “tapi saya milih kedokteran.”

PTN vs PTS
Melanjutkan studi ke perguruan tinggi sejatinya sudah mulai merenda ma
sa depan. Karena itu, memilih perguruan tinggi harus sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan baik itu kognitif maupun ekonomi. Memilih perguruan tinggi atau universitas tak terlepas dari jender perguruan tinggi tersebut. Umumnya mereka yang ikut SPMB sudah pasti memilih PTN. PTN-PTN di Indonesia sendiri menawarkan berbagai jurusan. Dan eksistensi setiap PTN tentunya berbeda-beda. Kredibilitas dan prestasi suatu PTN turut menarik peminatnya.

Ternyata kuliah PTS menjadi pilihan kesekian bagi sebagian calon mahasiswa. Salah satu faktornya adalah biaya. Paradigma masyarakan akan PTS mahal masih melekat erat. Belum lagi bayang-bayang kualitas PTS yang sering dicap lebih rendah dari PTN semakin mengecilkan minat calon mahasiswa untuk memilihnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sherly, “Aku tidak akan masuk PTS disamping biayanya mahal, kualitasnya kurang bagus, dan lulusannya kurang diperhitungkan di dunia kerja.”

Pernyataan Sherly dibantah oleh Wulandari Zulma, “Meskipun PTS itu mahal, tapi kualitasnya gak jauh beda dari PTN. Malahan yang Wulan saksikan sendiri, PTS lebih berkualitas karena jurusan di PTS lebih terspesialisasi serta sarana dan prasarananya lebih lengkap. Namun Putri tidak memihak, “Kualitasnya sama-sama bagus, susah untuk membedakannya.”

Kiranya Dia Afnani tidak lulus di PTN, Dia kekeh akan mengulang tahun depan, Aku ingin mengulang tahun depan aja.” Kebanyakan lulusan SMA maupun SMK masih gamang memasukan PTS ke dalam daftar tempat ia akan kuliah karena alasan lainnya.

Luar apa dalam?
Rencana punya rencana sebagian pelajar ada yang ngotot kuliah di luar daerah maupun ke luar negeri dengan berbagai alasan mulai dari kualitas dan pertimbangan biaya hidup. Kebutuhan kuliah tidak sekecil kebutuhan ketika masih SMA dan SMK. Lokasi kuliah menjadi bahan pertimbangan. Karena sebagian orangtua tidak memberi izin jikalau anaknya kuliah di luar daerah/ propinsi. Ini dialami oleh Dia Afnani dan Rida Fadila. Lain lagi dengan Sherly Aktivani, “Nggak boleh kuliah di luar propinsi. Kalo di luar biayanya cukup mahal belum lagi biaya hidup. Kalau di propinsi sendiri kita berada dalam pantauan orangtua, pengaruh buruk lingkungan pun dapat diminimalisir karena komunikasi dekat dengan orangtua. Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Dwi Putri.

D-1 Hingga D-3 Mulai Dilirik
Meskipun PTS kurang diminati bagi sebagian orang, akan tetapi program akademi seperti D-1 hingga D-3 mulai dilirik. Dewasa ini banyak lembaga pendidikan yang menawarkan program D-1 maupun D-3. Program pendidikan ini lebih fokus pada dunia kerja dan lebih banyak PKL (Pratek Kerja Lapangan) di berbagai perusahaan. Lagi pula banyak perusahan yang membutuhkan tenaga kerja lulusan D-1 atau D-1. Rida Fadila sudah punya cadangan pilihan, “Saya akan masuk program pendidikan D-3 bila ternyata saya tidak lulus SPMB.” Walaupun tak ikut SPMB, Ridola Sari memilih untuk kuliah, meskipun D-3.”

(Dirangkum oleh Rahmadanil/ SMA Semen Padang atas laporan Desriance/ MAN 2 Padang, Winerli Septevani/ SMAN 1 Padang, Yuli Rahmawati/ SMPN 10 Padang, Finda Andam Dewi/ SMA Baiturrahmah, Rika Erlina/ SMAN 2 Pariaman)

2 Tanggapan

  1. Memang untuk merebut bangku PTN itu tidak lah mudah apalgi PTN paforit, kita tidak heran dgn biaya Ratusan juta orang masih mau bayar kalau ada jalan pintas masuk kesitu.Comtohnya pada SPMB 2007 yang lalu ada bernama Ica berdomisili di Pondok Indah asal sekolahnya juga sekolah ternama di jakarta selatan,kemapuan belajarnya juga cukup lumayan 100 besar try out ganesa operation mencari sutradara joky dgn tujuan agar dibantu ,biaya yang di investasikan orang tuanya dgn latar belakang Dokter dan polisi 400 juta kalu jebol di Fak. kedoteran UGM.
    Kita lihat lagi orang kaya Medan Memperalat komplotan joky sehingga soal2 ujian dirampok untuk medapatkam nilai ujian tertinggi sehingga mengungguli seluruh pesaingnya. dan macam macam cara pun telah di desain para Joky mengkelabui panitia mengigat tawaran yang ditawarkan pengguna jasa ini sangat menggiurkan.sebenarnya kalau saya perhatikan panitia SPMBitu sangat tidak berdaya dengan modus mereka.disini saya tidak bisa menguraikan semua secara detail. kalau anda berminat boleh kontak aku di 081310006451.Terus biayanya kalua lulus paling tinggi 250 juta dan paling rendah 100 juta sesuai dengan progarm studi pilihannya siswa masing masing.biaya pendaftarannya biar tau aja 10 persen dari biaya jasa.Contoh, pilihannya kedokteran UNDIP biaya jasanya apabila llulus 150 juta ,maka uang pendaftarannya 15 juta rupiah.

  2. terimkasih komenn saudara kemit. Suap menyuap dan perjokian, zaman sekarang bukanlah sesuatu yang tabu. Bahkan secara terang-terangan. Angka yang saudara sebut di atas sangat fantastis sekali. Meskipun mereka mampu jebol ke PTN favorit akan tetapi kemampuan mereka belum tentu maksimal. Kebanyakan orang mau melakukan modus seperti itu karena menyandang gengsi, apalagi jurasan kedokteran.

    Saya sangat prihatin sekali, karena ini akan menimbulkan dampak terhadap kualitas. Tidak itu saja, jika praktek ini dibiarkan berlarut-larut makan edukasi di Indonesia dapat ‘diperjualbelikan’ alhasil bangsa kita ini ditangani oleh mereka-mereka yang tidak kompeten meskipun memiliki seabrek pendidikan yang bergengsi. Bukan tidak mungkin negera kita seperti Nauru–negara kaya dengan sumber daya alam akan tetapi punya hutang sana sini, hasil alamnya dieksploitasi besar-besaran negara maju.Bahkan lebih menyedihkan lagi daripada itu. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: