Agar Tak Terjadi Perjokian Ujian

Judul: Yes! Ujianku Sukses
Penulis:Fatan Fantastik
Ketebalan:116 hlm
Cetakan:Pertama, Juni 2007
Penerbit:Pro-U Media
Resensiator: Rahmadanil

Masih segar dalam ingatan kita kontrovesialnya ujian nasional siswa SMP dan SMA beberapa waktu yang diduga adanya indikasi perjokian ujian. Ini tidak terjadi bila peserta ujian sudah benar-benar siap mental menghadapinya. Dan pihak sekolah pun sudah menanggalkan rasa cemas siswanya tidak akan lulus.

Sosok ujian bagi mayoritas siswa sering diinterpretasikan seperti sosok eksekutor kematian. Apalagi ujian nasional yang menjadi tolok ukur kelulusan. Ketakutan ujian nasional terlihat pada mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris yang diberi perhatian ekstra: privat khusus, bukan berarti mengabaikan ujian bahasa indonesia. Sehingga hari-hari pelajar yang beranggapan bahwa ujian itu sosok yang perlu ditakuti dihiasi ketakutan yang membelenggu kemampuan. Wajar saja jika ketakuan itu terus menggerayangi karena ini menyangkut kelulusan dan hasil belajar selama tiga tahun. Akan tetapi, sebagai pelajar patutkah menghiperbolakan kalau ujian itu paling di takuti?

Sejatinya ujian merupakan evaluasi dan tolok ukur apakah siswa tersebut sudah berkompeten. Tidak saja sebagai parameter kemampuan akademik siswa saja, melainkan kesungguhan siswa dalam menghadapi ujian dan penguasaan materi pelajaran.

Bila dianalogikan ujian ibarat peperangan. Pasukan yang akan turun ke medan perang, tentunya sudah memiliki persiapan yang matang jikalau tidak mau mati konyol. Begitu juga dengan ujian, butuh persiapan yang ekstra baik itu fisik, psikis, saran dan prasarana dan yang paling krusial ialah kemampuan kognitif yang matang. Yang pastinya persiapan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Ujian adalah pupuk bagi ladang otak. Ibarat air hujan yang membasahi tanaman di bumi, tanaman tumbuh subur (hal. 12). Bagitu juga dengan kemampuan, jika semakin dipupuk, maka kemampuan itu makin tumbuh, berkembang, dan berbuah manusia yang intelek. Siswa cendrung meresahkan angka-angka (nilai) hasil ujian. Terkadang terbetik dalam pikiran untuk meraut nilai yang tinggi tanpa memikirkan kualitas (penguasaan pelajaran).

Prestise hasil ujian tidak saja memengaruhi siswa bersangkutan, melainkan guru yang mengajar ikut merasakannya. Jika hasilnya jeblok otomatis guru yang bersangkutan merasa gagal dalam mengajar. Sebaliknya, siswa juga merasa terbenani oleh anggapan merekana akan dimarahi orangtua akan memarahi habis-habisan jika nilai mereka hancur-hancuran.

Namun, ada beberapa siswa mengeluh bila ada ujian. Mereka tergolong siswa yang pintar, akan tetapi kala ujian hasilnya mereka mendapat nilai yang biasa-biasa saja dan malahan ada yang menurun. Ini dilema yang patut dicari biang keroknya. Ada semacam penyakit yang menggerogiti diri kita yang tanpa kita sadari penyakit tersebut sudah mendarah daging. Rasa malas, suka menunda-nunda pekerjaan, pelupa, tidak menguasai materi, dan rasa cemas (hal. 15) inilah yang menghancurkan semangat dan prestasi sewaktu ujian. Maka jangan heran jikalau siswa juara umum tidak lulus ujian, sedangkan siswa yang lumayan begok malah mengungguli. Semua penyakit itu segara dienyahkan agar tidak semakin akut.

Saat ini banyak cara-cara yang tidak edukatif dalam menghadapi ujian seperti: SKS (sistem kebut semalam) yang membuat mata melek sampai pagi alhasil saat ujian konsetrasi ujian buyar akibat mengantuk, dan SKSJ (sistem kebut sejam) ini sistem yang lebih tidak edukatif lagi. Cara belajar seperti ini sangat merugikan. Oleh sebabab itu mulai merevolusi cara belajar yang merugikan.

Adalah Fatan Fantastik, trainer yang menulis buku ini dengan gaya bahasa remaja. Sarjana Psikologi jebolan UGM ini lugas mengemukan permasalahan yang sering membelit pelajar seputar ujian dan sangat solutif. Penulis buku Bikin Belajar Selezat Coklat, dalam buku ini memberikan tips-tips agar sukses. Sebagai bacaan saat rehat, penulis juga memaparkan kisah-kisah yang mengajak pembaca untuk merenungkan hikmahnya. Kisah-kisah yang dialami oleh para intelektual islam yang dahulunya eksis dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Warnailah ujian dengan penuh kejujuran, menabung pahala, dan rasa takut pada Allah SWT. Banyaknya terjadi perjokian ujian yang dilakukan oleh sesama siswa dan pengawas. Bahkan dengan gentle-nya mereka membuat jimat yang didewakan akan menyelamatkan mereka. Ironisnya lagi semua salinan materi yang paling lengkap. Bahkan kunci jawaban ditulis di dinding kamar mandi sekolah.

Salah satu keunggulan buku ini ialah mengajak pembaca (khususnya pelajar) lebih selektif dalam mengadopsi dan merevolusi pola belajar. Bila pelajar sudah merevolusi pola belajar mereka, perjokian ujian pun dapat dielakkan. Kalau hanya mengejar angka saja tanpa memperhatikan kualitas niscaya sumber daya manusia masyarakat Indonesia semakin mundur.

Satu Tanggapan

  1. ya, saya setuju yang diharapkan dari pendidikan kita bukan hanya soal tingginya angka yang diperoleh, tapi juga proses belajar yang baik dan efektif!!! ^-^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: