Saatnya Mengenal Rival Pikiran

Judul: Melacak Kekafiran Berfikir
Pengarang : Drs. Muhammad Thalib
Cetakan : Kesepuluh, April 2007
Ketebalan : 72 halaman
Penerbit : Uswah (Kelompok Pro-U Media)
Peresensi : Rahmadanil


Sadarkan Anda, terkadang pikiran kafir menyusup, mengganggu kejernihan berpikir? Virus ini yang tengah menjangkiti para sarjana islam yang nota bene berlatar pendidikan tinggi. Mereka yang menimba ilmu di Eropa dan Amerika—negara dengan peradaban manusia modern terlebih teknologi yang merujuk pada pendidikan, sudah barang tentu memiliki pola pikir yang intelek. Namun, para intelektual ini belum tentu memiliki pola pikir yang senada dengan agama yang dianutnya. Maka, jangan heran mereka yang mengaku beragam islam, hasil bentukan pendidikan barat secara halus mulai menentang islam lewat jurnal, makalah, tesis maupun karya ilmiah.

Memang tanpa disadari kita dapat terjangkiti oleh virus kekafiran berpikir. Virus ini akan menjangkiti siapun tanpa pandang bulu. Target utamanya ialah kaum intelek, aktivis, bahkan pengajar sekalian.

Salah satu kekafiran berpikir, mereka yang menganut relativisme (hal. 20). Sebuah paham yang dikemukan oleh fisikawan modern, Albert Einstein. “Ukuran gerakan, ruang, dan waktu bersifat relatif” Di sini Einstein menyatakan bahwa terjadinya penciptaan alam semesta merupakan suatu unsur yang relatif. Teori inilah yang berkembang dan diajarkan di sekolah-sekolah (fisika). Relativisme merupakan suatu paham kenisbian yang mengeyampingkan kemutlakkan. Relativisme perlu diadakan pengujian dengan ilmu mantiq—ilmu yang mempelajari metode pemikiran indentik dengan matematika, sama rumitnya, hanya saja mantiq menggunakan kata-kata dan kalimat sebagai objek. Namun, kemutlakan itu tidak semua bisa diterima bagi sebagian orang. Mereka ada yang beragumen yang ada hanya kemutlakan yang relatif. Relatif-ers cendrung bersikap ambivalen. Mereka sulit menerima kemutlakan.

Kecanggihan teknologi tak dapat dielakkan, karena perkembangan zaman dan peradaban manusia semakin yang maju. Maka tak jarang manusia modern menjadikan zaman sebagai parameter (hal. 33). Mengikuti mode menjadi sebuah keharusan, jika tidak disebut-sebut wong deso, katrolah. Orang-orang yang berprinsip zaman adalah parameter, akan menjadikan mereka sejajar dengan Marxisme—paham yang tidak mengakui adanya tuhan.

Teknologi tak lepas dari campur tangan sains. Antara sains dan agama selalu ada jurang pemisah. Sebagian ilmuwan tidak mau membawa-bawa agama dalam sains. Dahulunya manusia primitif sangat takut pada keberingasan alam. Kemudian mereka melakukan pendekatan pada alam dengan mempersembahkan sesajian kepada gunung, pohon, bukit yang mereka anggap memiliki kekeuatan yang maha dahsyat. Sehingga keberingasan alam mereda dan manusia dapat hidup dengan tenang dan muncul berbagai kepercayaan dengan mediator sesajian. Sekarang berkat teknologi dan sains yang semakin canggih, manusia modern menjadi penguasa dunia. Bencana alam tak lagi menjadi momok yang perlu ditakuti. Dengan teknologi detektor gempa, tsunami ditemukan. Namun, dengan alat tersebut manusia sedikit sombong sehingga mengabaikan Allah sebagai penguasa alam. Makan jangan heran pada buah kesemobongan itu.

Begitu juga dalam dunia medis. Kesembuhan seorang pasien sangat bergantung pada dokter yang alat medis. Bila seorang pasien sembuh dari penyakit, kebanyakan kita beranggapan semata-mata hanya karena keahlian sang dokter dan kecanggihah alat medis (hal. 59). Di satu sisi kita benar-benar melupakan Dzat yang paling berkuasa atas segalanya. Tanpa-Nya, secanggih apapun peralatan medis dan ahlinya sang dokter niscaya pasien tak akan sembuh. Pemikiran kafir seperti ini seringkali membelit orang-orang yang tengah dirundung penyakit.

Barangkali Anda pernah bertemu dengan orang yang hanya memaksimalkan kepentingan pribadi. Walaupun secara tidak nyata menampakkan belang, orang tersebut menggunakan cara halus. Dengan tameng untuk kepentingan umum orang seperti ini dengan leluasa melancarkan aksi yang menguntungkan dirinya sendiri. Orang-orang yang seperti merupakan pengikut pragmatisme. Ada beberapa negara maju yang menerapkan prinsip ini. Negara maju menfaatkan negara berkembang yang kaya dengan sumber daya alam. Kemudia dieksploitasi secara besar-besaran dengan iming-iming ekosistem dan kesimbangan alam negera tersebut akan diperhatikan. Realitanya, negara-negara berkembang lebih banyak menderita.

Buku ini menjelaskan kekafiran berpikir seorang muslim. Seringkali seorang sarjana, pemikir (muslim) yang terperangkap dalam pola pemikiran yang kafir. Namun, hal tersebut sulit untuk terdekteksi, karena sudah berbaur dengan kebiasaan. Setidaknya buku ini memberikan perspektif yang menyegarkan dan dapat meluruskan paradigma yang terbiasa menjadi follower. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: