Obesitas Berujung Kematian

diet-w2.jpgLEMAK dibutuhkan tubuh sebagai penyimpan energi. Akan tetapi, penimbunan lemak yang berlebihan membahayakan kesehatan atau obesitas. Obesitas merupakan kondisi dimana energi yang masuk berlebih dari energi yang dikeluarkan tubuh. Secara general, wanita memiliki lemak lebih banyak ketimbang laki-laki.

Normalnya, persentase antara berat badan dengan lemak adalah 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Bila angka tersebut berlebih, berarti mereka mengalami obesitas. Obesitas dapat digolongkan menjadi 3 kelompok. Obesitas ringan (kelebihan berat badan 20-40%), obesitas sedang (kelebihan berat badan 41-100%), obesitas berat (kelebihan berat badan >100%).

Penyebab obesitas
Umumnya masyarakat berasumsi obesitas dipicu akibat terlalu banyak mengonsumsi makan manis, seperti cokelat. Padahal tidak. Obesitas disebabkan:

  • Faktor genetik. Disenyalir obesitas bersifat menurun karena terpaut pada gen. Bila si ibu gemuk, dominan keturunannya akan bertubuh tambun. -Kerusakan pada salah satu bagian otak. Hipotalamus pada otak juga berfungsi sebagai pengontrol nafsu makan. Bagian hipotalamus yang ikut andil dalam hal ini ialah hipotalamus lateral (HL) yang bertugas sebagai penggerak nafsu makan sedangkan hipotalamus ventromedial (HVM) bertugas menghentikan nafsu makan/ pusat kenyang. Bila terjadi kerusakan pada HVM maka seseorang rakus terhadap makanan.
  • Pola makanan. Penderita obesitas suak makan meskipun tidak lapar, berbeda dengan orang normal. Ini juga berkaitan dengan kontrol pribadi terhadap selera makan.
  • Kurang olahraga. Penderita obesitas cendrung lembam. Malas berolahraga. Selain membakar lemak, olahraga membantu menormalkan kembali metobolisme. -Lingkungan. Biasanya banyak ditemukan pada remaja putri. Bila tersingkir dalam pergaulannya, ia cendrung malas untuk melakukan aktivitas. Sehingga untuk berjalan menititangga pun enggan. -Penyakit. hipotiroidisme, sindroma cushing, sindroma genetik (penyakit bawaan). Penyakit-penyakit tersebut dapat membuat penderitanya obesitas. Sebab mengganggu sistem hormonal tubuh yang menyebabkan terjadinya penimbunan lemak.

Resiko menyepelakan obesitas

Penumpukan lemak dan kelebihan berat badan bila dicuekin menimbulkan komplikasi. Obesitas menyebabkan gangguan pembuluh darah yang berujung timbulnya penyakit jantung. Seiring pertamabahan berat badan, kerja jantung pun bertambah berat. Pasalnya jantung harus lebih banyak berdenyut agar darah yang dipompakan menyeluruh. Kasus ini dapat ditandai dengan napas sesak dan timbulnya bengkak pada tungkai. Penimbunan lemak juga menyebabkan gangguan saluran pernapasan yang menimbulkan henti napas saat tidur yang mengakibatkan gagal jantung. Kelebihan lemak mengganggu insulin sehingga gula tidak dapat masuk ke sel, akibatnya gula darah penderita meningkat (diabetes). Gangguan insulin berimbas pada metabolisme lemak dan memicu meningkatnya kolestrol jahat. Peningkatan ini membuat penderita terserang jantung korener dan stroke.

Cegah sejak dini

Agar penimbunan lemak tidak semakin menjadi-jadi, sebaiknya dilakukan pencegahan sejak dini. Pencegahan sejak dini dapat dilakukan pada masa kanak-kanak. Ada tiga jenis pencegahan: pencegahan primer, sekuder dan tersier. Pencegahan primer berikaitan dengan pendekatan pada penderita, biasanya penderita anak-anak diberikan penyuluhan pola hidup sehat. Pencegahan sekunder relevan pada program diet. Sedangkan pencegahan tersier lebih tertuju pada pengurangan dampak obesitas. Penanganan obesitas pada anak-anak bila sudah memenuhi kriteria obesitas. Untuk mengantisipasi kegemukan pada balita boleh saja, asalkan jangan menjalankan diet ketat yang seyogianya mengurangi asupan kalori dan gizi balita.

Jangan menghilangkan seluruh kelebihan berat badan. Memodifikasi pola perilaku anak maupun keluarga khususnya pola makan. Menambah pengeluaran atau penggunaan energi dengan mengajak anak untuk aktif bergerak. Beberapa tips menghindari Obesitas. Usahakan tidak terlalu sering mengonsumsi fast food. Jika tidak, konsumsilah makanan tersebut dengan porsi yang lebih kecil untuk balita. Sebab pada fase pertumbuhan, obesitas bisa meninggkat drastis. Biasakan makan di luar rumah pada jam makan. Bila makan fast food dengan porsi besar, jangan ditambah dengan soft drink atau es krim. Perbanyaklah memakan sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai sebagai penyeimbang. RAHMADANIL (*)

    3 Tanggapan

    1. saya perempuan umur 22 thn..tinggi 161 dengan berat badan 58,saya cek dengan rumus ideal dan ternyata saya kelebihan 4 kg apa saya termasuk obesitas?

      saya bekerja di perusahaan swasta,start jam 8 sampai 5,saya sempat ikut fitnes tp hanya bertahan 2 bulan karna saya merasa cape dan jenuh dengan rutinitas yg sama2 sj(plg kntor nge-gym)tdk ada waktu buat sendiri..

      kira2 olahraga apa yang cocok dan singkat dan jg bisa dilakukan di mana saja untuk saya?

      saya mhn bantuannya..
      thx….

    2. saya seorang mahasisiwa disalah satu pts ternama dijogja berat badan saya 119 kg dan tinggi 180 cm
      saya dulu sering renang tapi sekarang dah ngak lagi
      dan sekarng saya mempunyai diabetes militues saya ingin diet yang seperti apa dong

    3. saya seorang pria umur 33 th, tinggi badan 166, berapa berat badan ideal. makasih.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: